Powered By Blogger

Selamat datang

Selamat datang di sriwahyuni pustakawan
semoga blog ini bermanfaat
saya sangat terbuka dengan kritik dan saran

Cari Blog Ini

Kamis, 13 Mei 2010

MENGGALI SUMBER DANA UNTUK PERPUSTAKAAN

Dalam tulisan yang berjudul “Perpustakaan Ideal: Sebuah Realita Dan Harapan”, penulis pernah menyinggung sedikit tentang dana perpustakaan. Jika lima persen (5%) dana operasional suatu Instansi dialokasikan untuk perpustakaan miliknya tentu perpustakaan lebih maju dalam hal koleksi, manajemen dan IT-nya. Namun apakah sudah banyak perpustakaan yang mendapat dana sebesar itu?.

Banyak alasan yang membuat instansi induk berfikir ulang untuk mencairkan dana sebesar itu untuk perpustakaan. Dalam menyikapi hal itu sebaiknya perpustakaan tidak berpangku tangan menunggu dana cair atau sekedar jalan ditempat. Perpustakaan sedah semestinya mencari celah lain atau peluang lain untuk memperoleh aliran dana guna memajukan perpustakaan. Menurut hemat penulis ada beberap hal yang bisa kita tempuh yaitu:

1. Cara internal:

• Pengumpulan dana yang bersumber dari sumbangan buku mahasiswa
Hal itu dapat kita peroleh ketika mahasiswa akan diwisuda

• Pemberdayaan uang denda
Uang denda yang dihasilkan dari keterlambatan pengembalian bahan pustaka bisa digunakan untuk swakelola perpustakaan

2. Cara Eksternal

• Kerja sama dengan penerbit
Kerja sama ini bisa dilakukan dengan cara menfaslitasi counter untuk penjualan buku bagi penerbit . Hasil dari penjualan bisa dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama.

• Membuka warnet
Perpustakaan bisa membuka warnet yang terbuka bagi orang luar dengan biaya admistrasi atau tarif yang telah ditentukan. Warnet saat ini masih berpeluang meskipun banyak area hotspot disediakan tetapi masih banyak orang yang belum mempunyai notebook atau leptop. Cara ini bisa menambah pemasukan perpustakaan

• Membuka kantin, kafe atau outlet sesuai dengan keperluan pengguna perpustakaan
Meskipun perpustakaan merupakan lembaga nirlaba tetapi peluang bisnis seperti penyediaan kantin, kafe dan autlet lain perlu menjadi perhatian untuk meningkatkan incame yang pada akhirnya nanti berpulang kembali pada layanan untuk pengguna.

Dari beberapa hal yang telah kami tuliskan diatas tentunya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan perpustakaan dalam peningkatan dana untuk menuju layanan prima.

Senin, 26 April 2010

Library 2.0

Library 2.0


Pendahuluan
Secara virtual, Library 2.0 menggunakan Web 2.0 tools untuk memberikan layanan perpustakaan baik membangun sendiri web berbasis Lib 2.0 atau memanfaatkan aplikasi yang ada seperti Blogs and WIKI, RSS Feeds, Facebook, Social Bookmarks, Tagging dan CMS yang mendukung Web 2.0 seperti Wordpress dan Joomla.
Contoh nyata dari penerapan Web 2.0 atau Lib 2.0 adalah membuat blog berisi artikel yang bisa diberikan komentar oleh pemustaka, memiliki alamat social network yang aktif/update, membangun komunitas berbagi informasi, koleksi, file pada dunia maya atau internet dan layanan online 24 jam selama 7 hari.
Istilah Library 2.0 didengungkan pertama kali oleh Michael Casey dalam blognya, LibraryCrunch, dengan definisi yang mendapat tantangan dari beberapa penulis atau pengamat dan pustakawan lain. Istilah Library 2.0 yang diungkapkan berkaitan erat dengan istilah yang ungkapkan oleh Tim O'Reilly dan Dale Dougherty pada tahun 2003, yaitu Web 2.0. Istilah 2.0 digunakan O'Reilly untuk menunjukkan versi dari teknologi web yang bersifat partisipatori dan berpusat pada pemustaka. Karakteristik Web 2.0 ini dimanfaatkan Casey untuk mendefinisikan Library 2.0 yang memiliki sifat berubah terus menerus dengan tujuan yang jelas, melibatkan peran pemustaka melalui layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan mampu menjangkau pemustaka yang berpotensi menjadi pemustaka layanan perpustakaan tersebut.
Sementara definisi Library 2.0 lainnya, adalah yang diungkapkan oleh Maness dengan mendefinisikan Library 2.0 sebagai pengaplikasian teknologi berbasis web yang interaktif, kolaboratif dan bermultimedia pada koleksi dan layanan perpustakaan yang berbasis web. Baik definisi Maness maupun Casey, keduanya menekankan ciri Web 2.0 di dalamnya, sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa Library 2.0 adalah perpustakaan yang mengadopsi, memanfaatkan dan melibatkan Web 2.0 dalam layanan dan kegiatannya.



Karakteristik Library 2.0
Karakteristik utama dari Library 2.0 adalah komunikasi yang terjadi antara pustakawan dan pemustaka perpustakaan, dan keterlibatan pemustaka dalam pengembangan layanan perpustakaan. Maness menjelaskan ada 4 hal yang menjadi karakteristik Library 2.0:

1. User-centered atau berpusat pada pemustaka. pemustaka tidak saja menggunakan informasi yang tersaji melalui teknologi Web 2.0 yang dimanfaatkan oleh perpustakaan, tapi pemustaka adalah turut aktif dalam menyajikan konten pada aplikasi tersebut. pemustaka dianggap mampu membagikan pengetahuannya dan memiliki informasi yang akan berguna untuk pemustaka lainnya. Sebagai contoh pada katalog yang bersifat partisipatori milik perpustakaan umum St. Joseph di Indiana, tersedia fungsi dimana pemustaka dapat menambahkan tag dan memberikan review pada buku yang pernah dibacanya. Apa yang diinformasikannya, akan memberikan informasi kepada pemustaka lain. Hal ini juga terjadi di aplikasi wiki yang memang dimanfaatkan untuk membangun konten secara bersama-sama. Sementara pada blog, masukan pemustaka berupa umpan balik yang diberikan pada konten yang tersedia.
2. Multimedia experience atau pemanfaatan berbagai media untuk membangun konten dan penyajian layanan. Konten yang disajikan tidak hanya teks, tapi video atau audio atau gambar. Materi tutorial pemustakaan mesin pencari dapat disajikan dalam bentuk video. Sementara pemanfaatan flash dan audio dapat untuk membuat konten tutorial prosedur layanan-layanan di perpustakaan. Perpustakaan melakukan promosi layanan-layanannya akan lebih interaktif dan menarik dengan memanfaatkan multimedia.
3. Socially rich maksudnya adalah keberadaan pemustaka dan perpustakaan dapat dirasakan dan nyata sekalipun berbasis web. Komunikasi dapat dilakukan secara langsung menggunakan IM (instant messaging) atau secara tidak langsung melalui umpan balik yang diberikan atau komentar pada aplikasi jaringan sosial. Keberadaan perpustakaan yang dirasakan oleh pemustaka tidak dibatasi oleh tempat dan jarak. Layanan rujukan dapat terjadi sewaktu-waktu ketika keduanya bertemu. Dari komunikasi yang terjalin inilah perpustakaan dapat mengevaluasi layanan-layanannya dan mengembangkan layanan sesuai dengan kebutuhan pemustaka yang tertangkap dari komunikasi dan umpan balik yang diberikan.
4. Communally innovative adalah inovasi yang dilakukan bersama dengan komunitas pemustaka yang dilayani perpustakaan. Layanan tidak hanya berasal dari pustakawan atau perpustakaan tetapi layanan dihadirkan pula oleh pemustaka melalui keterlibatan mereka dalam pengembangan konten dan komunikasi. Perpustakaan berubah bersama komunitasnya dan perubahan yang terjadi berdasarkan kebutuhan komunitas yang dilayaninya.
Karakteristik yang menitik-beratkan pada kolaborasi antara pustakawan dan pemustaka membawa konsekuensi bahwa konsep Library 2.0 mengubah cara kerja dan arah pengembangan perpustakaan. Ini juga berarti mengubah para pustakawan dalam memberdayakan dirinya untuk melayani pemustaka dan melakukan pelayanan terhadap pemustaka. Keberadaan pemustaka yang tidak hanya dalam bentuk fisik, datang ke gedung perpustakaan untuk mendapatkan layanan, tapi juga hadir secara maya untuk mendapatkan layanan yang sama dengan format yang berbeda, menempatkan pustakawan sebagai orang yang fleksibel, cepat tanggap dan mampu melakukan beberapa layanan sekaligus.

Pemanfaatan Web 2.0
Layanan perpustakaan dengan konsep Library 2.0 menitik beratkan pada keterlibatan pemustaka dalam layanan tersebut sebagai pemanfaat dan penyedia informasi. Layanan jenis tersebut tidak selalu harus menggunakan teknologi informasi. Akan tetapi karena pada saat ini segala segi kehidupan telah begitu dekat dengan teknologi informasi, maka alat-alat Web 2.0 adalah alat-alat yang dimanfaatkan untuk menyajikan layanan Library 2.0. Alat-alat tersebut berupa aplikasi berbasis web yang telah disebutkan di atas. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyajikan layanan yang memberi keleluasaan bagi pemustaka untuk berpartisipasi dalam menyediakan konten.
1. Aplikasi Wiki dapat digunakan untuk berkolaborasi membuat konten bersama. Penyebaran ilmu melalui WIKI akan sangat cepat dan peer-review dapat terjadi secara online.
2. Aplikasi Blog menjadi alat untuk berbagi informasi dari pemustaka ke pemustaka lain. Perpustakan dapat memanfaatkan untuk menyajikan isu-isu terbaru yang dapat ditanggapi oleh pemustaka.
3. Aplikasi Facebook adalah cara berjejaring dengan pemustaka perpustakaan untuk mempromosikan layanan perpustakaan, bertukar informasi dan menjangkau pemustaka yang potensial
4. Aplikasi YouTube dan Flicker mengelola konten multimedia yang dapat dimanfaatkan sebagai penyaji layanan misalnya video tutorial tentang prosedur akses perpustakaan, tutorial literasi informasi dan sebagainya.
5. Aplikasi Delicious membantu menyimpan bookmard website-website yang ditemukan untuk kepentingan berikutnya. Mendapatkan informasi tentang bookmark orang lain akan menambah pengetahuan. Folksonomi berupa tag-tag pada bookmark website akan membantu pengkatagorian/pengelompokan website-website yang ditemukan dan melalui tag tersebut diperoleh website lain yang ditemukan pemustaka lain dengan tag yang sama. Jejaring ini menambah koleksi sumber informasi.
6. Aplikasi Google Docs memungkinkan beberapa pemustaka berkolaborasi untuk membangun dokumen secara bersama. Dokumen yang dibuat dan dibagikan hak aksesnya kepada pemustaka lain yang ditentukan, akan dapat diakses dan diubah. Kolaborasi ini mirip seperti aplikasi wiki, hanya dibuat tertutup atau terbatas pada pemustaka yang memiliki akses. Pemanfaatan Google docs untuk para pustakawan dapat bekerja sama ketika membuat konsep proposal atau karya bersama. Bahkan pemustaka dapat berbagi akses dengan pustakawan untuk mendapatkan evaluasi tentang karya tulisnya.
Penutup
Inti dari aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini adalah keberadaan pustakawan dan pemustaka pada layanan yang ada di aplikasi tersebut. Interaksi, komunikasi, dan pengetahuan dapat dibagikan melalui aplikasi tersebut. Dari pertemuan-pertemuan tersebut baik yang langsung maupun tidak langsung menghasilkan masukan dari pemustaka tentang kebutuhan mereka, pendapat mereka tentang layanan perpustakaan dan apa yang mereka tahu. Ini dapat mengarahkan kita kepada jenis dan bentuk layanan yang mungkin dapat disajikan oleh perpustakaan.


Referensi

Library 2.0 dan Librarian2.0. Dalam http://sambungjaring.blogspot.com/search/label/Library%202.0, didownload pada tanggal 01 Maret 2010 pukul 08.35 wib
Library 2.0 Konsep dan Pengembangannya .Dalamhttp://74.125.153.132/search?q=cache:Zib5B2oN3SIJ:www.scribd.com/doc/13882044/Library-20-Konsep-Dan-Penegembangannyadoc+library+2.0&cd=11&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a, didownload didownload pada tanggal 01 Maret 2010 pukul 08.10 wib
Pemanfaatan modul pada Joomla 1.0 dalam implementasi Lib.2.0 pada website Perpustakaan. Dalam http://library.perbanas.ac.id/news/pemanfaatan-modul--pada-joomla-1.0-dalam-implementasi-lib.2.0-p didownload pada tanggal 02 Maret 2010 pukul 08.15

Kamis, 25 Maret 2010

Sekilas Bahan Rujukan Umum

1. Dictonary (Kamus)
merupakan daftar kata yang disusun urut abjad/alfabetis disertai artinya. Kadang-kadang diberikan lawan kata, asal kata, kesamaaan kata. Kamus juga didefinisikan sebagai bahan rujukan yang memuat informasi tentang kata atau istilah yang berkaitan dengan ejaan, arti, atau definisi, cara pengucapan, asal kata, dan cara pemakainnya dalam kalimat.
Pada mulanya tujuannya adalah agar mereka mudah berkomunikasi dengan penduduk pribumi. Fungsi atau tujuan adanya kamus adalah untuk mencari arti dari suatu kata dari suatu bahasa tertentu yang kadang- kadang kamus disertai dengan lawan kata, asal kata dan kesamaan kata.Manfaatnya adalah perbendaharaan kita bertambah, bukan hanya mengetahuai suatu kata atau istilah tetapi kita dapat mengerti keterangan dasarnya.

2. Ensiklopedi
Definisi ensiklopedi adalah suatu daftar subyek yang disertai keterangan-keterangan tentang difinisi, latar belakang dan data bibliografisnya disusun secara alfabetis dan sistematis. Ensiklopedia merupakan bahan rujukan yang berisi informasi tentang berbagai hal atau ilmu pengetahuan secara mendasar dan bersifat umum pada informasi yang lebih lanjut. Ensiklopedi nasional perlu diterbitkan oleh setiap negara. Hal ini karena perlunya masyarakat suatu bangsa membaca dan memperoleh informasi yang penting dan mendasar tentang berbagai hal, sesuai dengan ideologi dan sudut pandang negara itu. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan, serta karena makin meningkatnya kebutuhan orang akan informasi, maka banyak terbit ensiklopedi dalam bentukan yang semakin menarik. Fungsi dari ensiklopedi adalah digunakan untuk memperoleh informasi yang penting tentang berbagai hal atau ilmu pengetahuan secara mendasar dan bersifat umum pada informasi yang lebih lanjut.
Ensiklopedi mempunyai 3 tujuan utama yaitu :

a. Source of answer to fact question, yaitu sebagai sumber jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan fakta dan kenyataan serta data-data.

b. Source of background information, yaitu sebagai sumber informasi yang memuat topic atau pengetahuan dasar yang ada hubungannya dengan suatu subyek dan berguna untuk penelusuran lebih lanjut.
c. Direction Service, yaitu merupakan suatu layanan pengarahan terhadap bahan-bahan lebih lanjut untuk para pembaca

terhadap topic-topik yang dibahas. Direction Service ini umumnya ditonjolkan dalam bentuk suatu daftar
bacaan/bibliografi/referensi yang dianjurkan untuk dibaca atau dipelajari dan terdapat pada akhir artikel.

3. Indeks
Indeks adalah daftar yang disusun secara secara sistematis yang bisa memberikan informasi tentang sesuatu hal dan memungkinkannya untuk diikuti. Indeks berfungsi untuk mengetahui terbitan apa saja yang sudah ada.Jadi indeks digunakan sebagai alat penelusuran informasi . Perlunya indeks semakin terasa karena dewasa ini ada fenomena yang disebut sebagai ledakan informasi. Maksudnya adalah begitu banyak informasi literatur dihasilkan, sehingga tidak seorang pun yang dapat membaca semua terbitan, bahkan dalam bidang yang sempit sekalipun. Untuk itu diperlukan sarana pemilihan literature agar orang dapat mengetahui terbitan dalam bidang tertentu, untuk kemudian menentukan literatur apa yang perlu dibaca dari sekian banyak literatur dan dimana didapatkan bahan rujukan indeks memberi petunjuk untuk itu.

4. Buku Tahunan
Adalah buku yang diterbitkan setiap tahun, berisi informasi mutakhir mengenai segala sesuatu dalam bentuk uraian singkat atau statistic mengenai catatan kejadian atau perkembangan suatu masalah /subyek dalam satu tahun terakhir (buku tahunan sering pula meninjau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun). Fungsi dari buku tahunan adalah untuk mencari informasi mutakhir mengenai segala sesuatu dalam bentuk uraian singkat atau statistic atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun. Secara garis besarnya fungsi buku tahunan secara rinci adalah adalah memberikan informasi tentang :
a. Perkembangan terakhir atau kegiatan-kegiatan yang telah terlaksana suatu badan, lembaga, instansi, atau organisasi dalam tahun sebelumnya.

b. Yang bersangkutan dengan sejarah, perkembangan suatu lembaga, badan, organisasi nasional maupun internasional selama setahun.

c. Dalam penyajian informasinya yearbook biasanya dengan memberi data statistic sedangkan annual tidak menekankan pada data statistic.

5. Hand Book
merupakan koleksi referensi yang memuat bunga rampai informasi yang dipusatkan pada pokok bahasan atau subyek tertentu yang dipergunakan sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu.Dalam definisi lain handbooak adalah buku yang berisi berbagai macam informasi atau aspek mengenai suatu subyek atau masalah. Fungsi dari handbook adalah sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan yang berisi informasi penting dalam suatu subyek tertentu.

6. Almanak
merupakan buku tahunan yang memuat informasi tentang kejadian dan perkembangan berbagai hal yang terjadi dalam jangka waktu tertentu, biasanya berisi juga data statistic. Definisi lain dari almanak adalah bahan rujukan yang menyerupai suatu kalender kegiatan dalam setahun berisi :

a. Kalender atau penanggalan, kadang-kadang disertai data peristiwa astronomis antara lain gerakan benda-benda langit. Misalnya: posisi matahari, bulan, planet, dan bintang serta untuk keperluan navigasi laut. Di samping itu ada juga almanak yang berisi informasi tanggal, bulan dan tahun kelahiran.

b. Data pemerintahan, sejarah, geografi, dan iklim, kependudukan, serta statistika informasi lainnya atau kadang-kadang terbatas pada sebuah bidang saja. .Fungsi dari almanak adalah untuk mencari informasi tentang kejadian dan perkembangan berbagai hal yang terjadi dalam jangka waktu tertentu.

7. Kamus Biografi
Adalah koleksi referensi yang memuat informasi mengenai tanggal lahir dan atau mati seseorang, juga mengenai kualifikasi, kedudukan, kegiatan , alamat juga riwayat hidup dan lain sebagainya. Fungsi dari Kamus biografi adalah untuk mengetahui informasi seseorang atau riwayat tokoh-tokoh terkenal mengenai tanggal lahir dan atau mati, juga mengenai kualifikasi, pengalaman, penghargaan, kedudukan, kegiatan, alamat dan juga mengetahui kiat mereka mengarungi hidup.

8. Direktori
yaitu buku rujukan yang berisi daftar nama orang atau organisasi, alamat, nomor telepon dan kegiatan dalam bidang tertentu yang disusun sistematis. Ada yang disusun alfabetis, ada pula yang disusun menurut golongan ilmu pengetahuan. Biasanya disertai juga alamat, organisasi atau orang dalam bidang tertentu, jumlah staf, jenis kegiatan dan lain sebagainya. Direktori berfungsi sebagai sumber informasi bagi lembaga, kantor yang sering ingin mengadakan komunikasi dan kerjasama dalam bidang tertentu. Melalui direktori kita dapat menemukan Informasi tentang keberadaan suatu organisasi, lembaga, badan atau peorangan.

9. Atlas
Adalah koleksi referensi yang khusus memuat informasi lingkup geografis, ekonomi , politik, sosial dan aspek lain . Atlas berfungsi sebagai sumber informasi dalam pencarian lokasi atau letak geografis suatu tempat untuk keperluan tertentu. Dengan adanya atlas kita dapat dengan mudah mengetahui lokasi daerah terpencil atau pulau yang kurang terkenal.

10. Gazetteer
Adalah kamus ilmu bumi yang mencakup nama-nama lokasi suatu tempat, sungai, gunung dan nama geografis lainnya yang uraiannya diberikan secara singkat termasuk angka-angka statistic, luas wilayah, jumlah penduduk dan sebagainya. Didalam gazetteer tidak dimuat gambar-gambar peta lokasi melainkan hanya disebut dengan angka-angka posisi suatu tempat di bumi atau angkasa luar misalnya pada koordinat (bujur dan lintang) berapa posisi suatu tempat, juga apa ciri-ciri tempat itu seperti temperatur, iklim dan kelembaban. Fungsi dari gazetteer adalah
dan sebagainya).

11. Bibliografi
Adalah buku yang memuat daftar terbitan baik dalam bentuk buku maupun artikel majalah, atau sumber kepustakaan lain yang berhubungan dengan suatu subyek, lapangan ilmu pengetahuan atau hasil karya seseorang.Definisi lain mengatakan bahwa bibliografi merupakan koleksi referensi yang berupa daftar buku dari bidang ilmu tertentu yang disusun secara sistematis mengenai pengarang, periode waktu tertentu, subyek , dan sebagainya. Bibliografi sendiri tidak memuat isi subyek tetapi hanya merupakan daftar. Fungsi Bibliografi adalah dapat digunakan untuk mendeteksi terbitan daerah yang bersangkutan.

12. Periodical (terbitan berkala)
Publikasi yang diterbitkan secara berkala atau bentuk publikasi yang pada umumnya memuat berbagai tulisan, baik yang umum maupun yang khusus dari berbagai pengarang serta berisi pula berbagai keterangan atau berita dan artikel. Terbitan berkala ini pada umumnya memuat informasi mutakhir. Untuk melihat tingkat kemutakhirannya ini bisa dilihat dari frekuensi penerbitannya seperti majalah, jurnal, surat kabar, bulletin, dan sebagainya. Fungsi dari periodical adalah untuk penambahan wawasan atau untuk mencari informasi-informasi terkini yang bersifat umum tentang suatu peristiwa atau kejadian ataupun informasi lainnya.

13. Abstrak
Abstrak adalah ringakasan atau sari karangan dari suatu penerbitan atau artikel disertai sekedar gambaran bibliografi untuk memungkinkan artikel atau penerbitan itu dapat diikuti. Dalam banyak hal ini abstrak sama dengan indeks. Jadi keduanya dapat berbentuk monograf ataupun majalah. Maka pada keduanya dikenal majalah abstrak dan indeks, atau yang berbentuk monograf. Di Indonesia terdapat beberapa masalah yang menghambat perkembangan penerbitan abstrak, khususnya majalah abstrak. Masalah ini adalah kelangkaan orang yang sekaligus menguasai teknik mengabstrak dan memahami subjek yang mau dibuat abstraknya. Masalah lain tentu dana untuk penerbitan. Selain itu memang kurang tersedia literatur dalam bahasa Indonesia yang mau dibuat abstraknya secara berkesinambungan. fungsinya sama dengan indeks sebagai alat penelusuran informasi. Perbedaannya dengan indeks yaitu kalau indeks hanya sampai pada penunjukkan tempat suatu informasi berada, sedangkan abstrak di samping menunjukkan tempat informasi, juga memuat tambahan keterangan dari informasi yang diabstraknya berupa ringkasan isi karangan sekitar 50 sampai 250 kata.




Daftar Pustaka

Bahan Rujukan Indonesia. Dalam http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail&ID=346, diakses pada tanggal 08 Maret 2010 pukul 15.40 wib.

Kamus Istilah Perpustakaan . Dalam http://www.pnri.go.id/Lists/istilah perpustakaan/DispForm.aspx?ID=1096&Source=http%3A%2F%2F , diakses pada tanggal 09 Maret 2010 pukul 07.35 wib.

Koleksi Bahan Rujukan Umum. Dalam http://kangtarto.blogspot.com/2008/01/koleksi-bahan-rujukan-perpustakaan.html, diakses pada tanggal 11 Maret 2010 pukul 12.40 wib.

Koleksi Referensi. Dalam http://library.unisba.ac.id/referensi.htm#kamus, diakses pada tanggal 08 Maret 2010 pukul 15.40 wib.

Senin, 22 Maret 2010

Lanjutan Perpustakaan Pantai: Sebuah Ide

Sasaran Pemakai Perpustakaan
Sasaran pemakai perpustakaan di obyek wisata pantai ini adalah pengunjung yang berwisata di tempat tersebut , pedagang dan pagawai yang mengelola obyek wisata.

Manajemen Perpustakaan
Rancangan Perpustakaan ini dikelola oleh orang-orang yang berkompeten dalam bidang perpustakaan yang memang benar-benar berprofesi sebagai pustakawan yang paham teknologi informasi dan orang-orang yang lebih berorientasi ke masa depan dengan mengedepankan layanan yang nyaman dan prima.

Gedung dan fasilitas
Rancangan gedung yang akan digunakan untuk perpustakaan adalah gedung berlantai empat dengan ruang full AC sehingga pengunjung merasa nyaman. Lantai dasar dan lantai dua digunakan sebagai tempat koleksi dan layanan sedangkan lantai tiga untuk tempat bersantai bagi pengguna agar lebih leluasa melihat pemandangan di sekitar pantai. Untuk lantai empat digunakan sebagai tempat istirahat penggunjung yang disewakan apabila ingin bermalam dilokasi obyek wisata.

Koleksi dan Layanan
Koleksi perpustakaan pantai ini meliputi koleksi ilmu alam, sejarah obyek wisata dan koleksi umum yang turut mendukung kelengkapan koleksi. Dari koleksi tersebut diharapkan pengunjung lebih tahu informasi tentang kondisi alam terutama kawasan pantai.
Jenis layanan yang akan diterapkan adalah dengan menggunakan sistem open access sehingga pengguna lebih leluasa memilih koleksi yang akan diinginkan. Jam buka layanan 24 jam, kapanpun pengguna bisa menggunakan fasilitas perpustakaan. Namun, layanan peminjaman koleksi hanya untuk pegawai dan pedagang yang menetap di lokasi pantai sedangkan pengunjung hanya diperkenankan membaca ditempat.

Layanan Plus
Layanan plus yang dimaksud penulis disini adalah layanan “lebih”. Petugas perpustakaan memberikan “secangkir kopi gratis atau soft drink gratis” bagi setiap pengunjung yang mampir ke perpustakaan. Dengan sifatnya yang plus ini diharapkan pengunjung tidak bosan dan ingin kembali lagi ke obyek wisata pantai ini dan singgah ke perpustakaan.


Penutup
Ulasan singkat diatas masih sebatas ide, diharapkan suatu saat ide tersebut dapat terwujud sehingga masyarakat semakin familiar dan bersahabat dengan perpustakaan.

Perpustakaan Pantai: Sebuah Ide

Perpustakaan Pantai
Sebuah Ide
Tempat wisata biasanya digunakan sebagai tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan atau menghilangkan stress seperti taman, pantai atau wisata alam lainnya, belum tersentuh fasilitas seperti perpustakaan. Menurut hemat penulis fasilitas yang ada sekarang ini baru sekedar kamar wc, tempat berteduh ala kadarnya, tempat bermain anak atau mushola untuk tempat beribadah. Berangkat dari minimnya fasilitas untuk wisatawan ada sebuah ide untuk mendirikan perpustakaan yang gratis dengan layanan plus yang disediakan untuk pengunjung dalam menikmati sausana rekreasi.
Dalam tulisan ini penulis hanya akan memilih salah satu jenis tempat rekresi yang akan dijadikan sebagai tempat untuk mendirikan sebuah perpustakaan yaitu obyek wisata pantai. Tujuan didirikannya perpustakaan yang berada di lokasi pantai ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta memberikan kenyamanan yang lebih bagi pengunjung. Tulisan “Rancangan Perpustakaan yang Didirikan di Obyek Wisata Pantai” ini akan mengulas tentang sasaran pemakai perpustakaan, manajemen, gedung dan fasilitas, koleksi, dan layanan plus.

berlanjut......

Jumat, 19 Maret 2010

Cakupan Kebutuhan Otomasi Perpustakaan


Menu-menu dalam otomasi perpustakaan meliputi:

1.Pengadaan bahan pustaka
Kegiatan dalam pengadaan bahan pustaka yang dapat diotomasikan adalah pencatatan permintaan, pemesanan dan pembayaran bahan pustaka, penerimaan dan laporan proses pengadaan.

2.Pengolahan bahan pustaka
Meliputi kegiatan pemasukan data buku atau majalah, penelusuran status buku yang diproses, pemasukan cover buku, pencetakan kartu catalog, labeling barcode dan nomor panggil (call number).

3.Penelusuran bahan pustaka
Penelusuran ini mencakup berbagai alternatif pilihan yaitu penelusuran memalui pengarang, melalui judul, melalui penerbit, melalui subyek melalui tahun terbit dan sebagainya.

4.Manajemen anggota
Bidang yang dapat dikerjakan adalah pemasukan dan pencarian data anggota perpustakaan, registrasi anggota, dan pencetakan kartu anggota.

5. Sirkulasi
Kegiatan yang terotomasikan adalah pencatatan peminjaman, pencatatan pengembalian , penghitungan denda dan pemesanan peminjaman buku. Sebagai kegiatan tambahan yang bisa dilakukan adalah pendataan weeding buku, pendataan buku diperbaiki, dan pendataan buku hilang.

6. Pelaporan (Reporting)
Pelaporan merupakan sistem yang sangat membantu dalam proses analisa aktivitas perpustakaan. Laporan ini digunakan untuk:
a. Melihat transaksi peminjaman
b. Melihat aktivitas anggota dalam satu tahun
Pengelolaan laporan terdiri dari laporan dan statistik. Laporan ini terdiri dari rekap pendaftaran, bebas pinjam, buku yang dipinjam, buku dikembalikan, surat tagihan, denda dan rekap katalogisasi.
sedangkan statistik meliputi statistik anggota baru, bebas pinjam, tamu, peminjam, buku yang dipinjam, buku yang dikembalikan, denda, buku baru, pengunjung, buku yang dibaca,buku hilang, buku yang diperbaiki dan penyiangan (weeding) bahan pustaka.

7. Pengelolaan Administrasi system
Pengelolaan ini meliputi pengelolaan unit perpustakaan, konfigurasi katalog, konfigurasi seting awal,hari libur , data referensi buku dan pengelolaan laporan

Referensi
Supriyanto, Wahyu dan Ahmad Muhsin. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

Jumat, 19 Februari 2010

Weblog

BLOG

Pengertian blog


Sudah banyak sekali situs maupun blog yang membahas serta mencoba mengartikan blog. Dari wikipedia Blog merupakan singkatan dari "web log" adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.

Sejarah

Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.

Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis, . Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.

Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

Komunitas Blogger

Komunitas blogger adalah sebuah ikatan yang terbentuk dari para blogger berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus, kesamaan hobi, dan sebagainya. Para blogger yang tergabung dalam komunitas-komunitas blogger tersebut biasanya sering mengadakan kegiatan-kegiatan bersama-sama seperti kopi darat.

Untuk bisa bergabung di komunitas blogger, biasanya ada semacam syarat atau aturan yang harus dipenuhi untuk bisa masuk di komunitas tersebut, misalkan berasal dari daerah tertentu.