Powered By Blogger

Selamat datang

Selamat datang di sriwahyuni pustakawan
semoga blog ini bermanfaat
saya sangat terbuka dengan kritik dan saran

Cari Blog Ini

Senin, 26 April 2010

Library 2.0

Library 2.0


Pendahuluan
Secara virtual, Library 2.0 menggunakan Web 2.0 tools untuk memberikan layanan perpustakaan baik membangun sendiri web berbasis Lib 2.0 atau memanfaatkan aplikasi yang ada seperti Blogs and WIKI, RSS Feeds, Facebook, Social Bookmarks, Tagging dan CMS yang mendukung Web 2.0 seperti Wordpress dan Joomla.
Contoh nyata dari penerapan Web 2.0 atau Lib 2.0 adalah membuat blog berisi artikel yang bisa diberikan komentar oleh pemustaka, memiliki alamat social network yang aktif/update, membangun komunitas berbagi informasi, koleksi, file pada dunia maya atau internet dan layanan online 24 jam selama 7 hari.
Istilah Library 2.0 didengungkan pertama kali oleh Michael Casey dalam blognya, LibraryCrunch, dengan definisi yang mendapat tantangan dari beberapa penulis atau pengamat dan pustakawan lain. Istilah Library 2.0 yang diungkapkan berkaitan erat dengan istilah yang ungkapkan oleh Tim O'Reilly dan Dale Dougherty pada tahun 2003, yaitu Web 2.0. Istilah 2.0 digunakan O'Reilly untuk menunjukkan versi dari teknologi web yang bersifat partisipatori dan berpusat pada pemustaka. Karakteristik Web 2.0 ini dimanfaatkan Casey untuk mendefinisikan Library 2.0 yang memiliki sifat berubah terus menerus dengan tujuan yang jelas, melibatkan peran pemustaka melalui layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan mampu menjangkau pemustaka yang berpotensi menjadi pemustaka layanan perpustakaan tersebut.
Sementara definisi Library 2.0 lainnya, adalah yang diungkapkan oleh Maness dengan mendefinisikan Library 2.0 sebagai pengaplikasian teknologi berbasis web yang interaktif, kolaboratif dan bermultimedia pada koleksi dan layanan perpustakaan yang berbasis web. Baik definisi Maness maupun Casey, keduanya menekankan ciri Web 2.0 di dalamnya, sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa Library 2.0 adalah perpustakaan yang mengadopsi, memanfaatkan dan melibatkan Web 2.0 dalam layanan dan kegiatannya.



Karakteristik Library 2.0
Karakteristik utama dari Library 2.0 adalah komunikasi yang terjadi antara pustakawan dan pemustaka perpustakaan, dan keterlibatan pemustaka dalam pengembangan layanan perpustakaan. Maness menjelaskan ada 4 hal yang menjadi karakteristik Library 2.0:

1. User-centered atau berpusat pada pemustaka. pemustaka tidak saja menggunakan informasi yang tersaji melalui teknologi Web 2.0 yang dimanfaatkan oleh perpustakaan, tapi pemustaka adalah turut aktif dalam menyajikan konten pada aplikasi tersebut. pemustaka dianggap mampu membagikan pengetahuannya dan memiliki informasi yang akan berguna untuk pemustaka lainnya. Sebagai contoh pada katalog yang bersifat partisipatori milik perpustakaan umum St. Joseph di Indiana, tersedia fungsi dimana pemustaka dapat menambahkan tag dan memberikan review pada buku yang pernah dibacanya. Apa yang diinformasikannya, akan memberikan informasi kepada pemustaka lain. Hal ini juga terjadi di aplikasi wiki yang memang dimanfaatkan untuk membangun konten secara bersama-sama. Sementara pada blog, masukan pemustaka berupa umpan balik yang diberikan pada konten yang tersedia.
2. Multimedia experience atau pemanfaatan berbagai media untuk membangun konten dan penyajian layanan. Konten yang disajikan tidak hanya teks, tapi video atau audio atau gambar. Materi tutorial pemustakaan mesin pencari dapat disajikan dalam bentuk video. Sementara pemanfaatan flash dan audio dapat untuk membuat konten tutorial prosedur layanan-layanan di perpustakaan. Perpustakaan melakukan promosi layanan-layanannya akan lebih interaktif dan menarik dengan memanfaatkan multimedia.
3. Socially rich maksudnya adalah keberadaan pemustaka dan perpustakaan dapat dirasakan dan nyata sekalipun berbasis web. Komunikasi dapat dilakukan secara langsung menggunakan IM (instant messaging) atau secara tidak langsung melalui umpan balik yang diberikan atau komentar pada aplikasi jaringan sosial. Keberadaan perpustakaan yang dirasakan oleh pemustaka tidak dibatasi oleh tempat dan jarak. Layanan rujukan dapat terjadi sewaktu-waktu ketika keduanya bertemu. Dari komunikasi yang terjalin inilah perpustakaan dapat mengevaluasi layanan-layanannya dan mengembangkan layanan sesuai dengan kebutuhan pemustaka yang tertangkap dari komunikasi dan umpan balik yang diberikan.
4. Communally innovative adalah inovasi yang dilakukan bersama dengan komunitas pemustaka yang dilayani perpustakaan. Layanan tidak hanya berasal dari pustakawan atau perpustakaan tetapi layanan dihadirkan pula oleh pemustaka melalui keterlibatan mereka dalam pengembangan konten dan komunikasi. Perpustakaan berubah bersama komunitasnya dan perubahan yang terjadi berdasarkan kebutuhan komunitas yang dilayaninya.
Karakteristik yang menitik-beratkan pada kolaborasi antara pustakawan dan pemustaka membawa konsekuensi bahwa konsep Library 2.0 mengubah cara kerja dan arah pengembangan perpustakaan. Ini juga berarti mengubah para pustakawan dalam memberdayakan dirinya untuk melayani pemustaka dan melakukan pelayanan terhadap pemustaka. Keberadaan pemustaka yang tidak hanya dalam bentuk fisik, datang ke gedung perpustakaan untuk mendapatkan layanan, tapi juga hadir secara maya untuk mendapatkan layanan yang sama dengan format yang berbeda, menempatkan pustakawan sebagai orang yang fleksibel, cepat tanggap dan mampu melakukan beberapa layanan sekaligus.

Pemanfaatan Web 2.0
Layanan perpustakaan dengan konsep Library 2.0 menitik beratkan pada keterlibatan pemustaka dalam layanan tersebut sebagai pemanfaat dan penyedia informasi. Layanan jenis tersebut tidak selalu harus menggunakan teknologi informasi. Akan tetapi karena pada saat ini segala segi kehidupan telah begitu dekat dengan teknologi informasi, maka alat-alat Web 2.0 adalah alat-alat yang dimanfaatkan untuk menyajikan layanan Library 2.0. Alat-alat tersebut berupa aplikasi berbasis web yang telah disebutkan di atas. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyajikan layanan yang memberi keleluasaan bagi pemustaka untuk berpartisipasi dalam menyediakan konten.
1. Aplikasi Wiki dapat digunakan untuk berkolaborasi membuat konten bersama. Penyebaran ilmu melalui WIKI akan sangat cepat dan peer-review dapat terjadi secara online.
2. Aplikasi Blog menjadi alat untuk berbagi informasi dari pemustaka ke pemustaka lain. Perpustakan dapat memanfaatkan untuk menyajikan isu-isu terbaru yang dapat ditanggapi oleh pemustaka.
3. Aplikasi Facebook adalah cara berjejaring dengan pemustaka perpustakaan untuk mempromosikan layanan perpustakaan, bertukar informasi dan menjangkau pemustaka yang potensial
4. Aplikasi YouTube dan Flicker mengelola konten multimedia yang dapat dimanfaatkan sebagai penyaji layanan misalnya video tutorial tentang prosedur akses perpustakaan, tutorial literasi informasi dan sebagainya.
5. Aplikasi Delicious membantu menyimpan bookmard website-website yang ditemukan untuk kepentingan berikutnya. Mendapatkan informasi tentang bookmark orang lain akan menambah pengetahuan. Folksonomi berupa tag-tag pada bookmark website akan membantu pengkatagorian/pengelompokan website-website yang ditemukan dan melalui tag tersebut diperoleh website lain yang ditemukan pemustaka lain dengan tag yang sama. Jejaring ini menambah koleksi sumber informasi.
6. Aplikasi Google Docs memungkinkan beberapa pemustaka berkolaborasi untuk membangun dokumen secara bersama. Dokumen yang dibuat dan dibagikan hak aksesnya kepada pemustaka lain yang ditentukan, akan dapat diakses dan diubah. Kolaborasi ini mirip seperti aplikasi wiki, hanya dibuat tertutup atau terbatas pada pemustaka yang memiliki akses. Pemanfaatan Google docs untuk para pustakawan dapat bekerja sama ketika membuat konsep proposal atau karya bersama. Bahkan pemustaka dapat berbagi akses dengan pustakawan untuk mendapatkan evaluasi tentang karya tulisnya.
Penutup
Inti dari aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini adalah keberadaan pustakawan dan pemustaka pada layanan yang ada di aplikasi tersebut. Interaksi, komunikasi, dan pengetahuan dapat dibagikan melalui aplikasi tersebut. Dari pertemuan-pertemuan tersebut baik yang langsung maupun tidak langsung menghasilkan masukan dari pemustaka tentang kebutuhan mereka, pendapat mereka tentang layanan perpustakaan dan apa yang mereka tahu. Ini dapat mengarahkan kita kepada jenis dan bentuk layanan yang mungkin dapat disajikan oleh perpustakaan.


Referensi

Library 2.0 dan Librarian2.0. Dalam http://sambungjaring.blogspot.com/search/label/Library%202.0, didownload pada tanggal 01 Maret 2010 pukul 08.35 wib
Library 2.0 Konsep dan Pengembangannya .Dalamhttp://74.125.153.132/search?q=cache:Zib5B2oN3SIJ:www.scribd.com/doc/13882044/Library-20-Konsep-Dan-Penegembangannyadoc+library+2.0&cd=11&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a, didownload didownload pada tanggal 01 Maret 2010 pukul 08.10 wib
Pemanfaatan modul pada Joomla 1.0 dalam implementasi Lib.2.0 pada website Perpustakaan. Dalam http://library.perbanas.ac.id/news/pemanfaatan-modul--pada-joomla-1.0-dalam-implementasi-lib.2.0-p didownload pada tanggal 02 Maret 2010 pukul 08.15

1 komentar:

  1. materi ini disarikan dari beberapa sumber dan dijadikan satu. kritk dan saran akan kami nantikan

    BalasHapus